BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Konstruktivisime adalah salah satu filsafat pengetahuan yang menekankan
bahwa pengetahuan adalah bentukan kita sendiri. Pengetahuan bukan tiruan dari
realitas, bukan juga gambaran dari dunia kenyataan yang ada. Pengetahuan
merupakan hasil dari kontruksi kognitif melalui kegiatan individu dengan
membuat struktur, kategori, konsep dan skema yang diperlukan untuk membentuk
pengetahuan tersebut.
Pengetahuan
tidak bisa ditransfer begitu saja,melainkan harus diinterpretasikan sendiri
oleh masing-masing individu. Pengetahuan juga bukan merupakan sesuatu yang
sudah ada, melainkan suatu proses yang berkembang terus menerus. Dalam proses
itu keaktifan seseorang sangat menentukan dalam mengembangkan pengetahuannya.
Banyak peserta didik yang salah menangkap apa yang diberikan oleh
gurunya. Hal ini menunjukkan bahwa pengetahuan tidak begitu saja dipindahkan,
melainkan harus dikonstruksikan sendiri oleh peserta didik tersebut.Peran guru
dalam pembelajaran bukan pemindahan pengetahuan, tetapi hanya sebagai
fasilitator, yang menyediakan stimulus
baik berupa strategi pembelajaran, bimbingan dan bantuan ketika peserta didik,
mengalami kesulitan belajar, ataupun menyediakan media dan materi pembelajaran
agar peserta didik itu merasa termotivasi, tertarik untuk belajar sehingga
pembelajaran menjadi bermakna dan ahirnya peserta didik tersebut mampu
mengkontruksi sendiri pengetahuaanya.
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1.
Bagaimana pandangan konstruktivisme tentang belajar?
1.2.2.
Bagaimana akar sejarah konstruktivisme?
1.2.3.
Bagaimana strategi belajar konstruktivisme?
1.3 Tujuan
1.3.1.
Menjelaskan pandangan konstruktivisme tentang belajar
1.3.2.
Menjelaskan akar sejarah konstruktivisme
1.3.3.
Menjelaskan strategi belajar konstruktivisme
1.4 Maanfaat
1.4.1.
Mengetahui pandangan konstruktivisme tentang belajar
1.4.2.
Mengetahui akar sejarah konstruktivisme
1.4.3.
Mengetahui strategi belajar konstruktivisme
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
Pandangan konstruktivisme tentang belajar
2.1.1. Pengertian belajar menurut pandangan
konstruktivisme
Menurut paham konstruktivisme, ilmu pengetahuan sekolah tidak dipindahkan dari guru
kepada murid dalam bentuk yang serba sempurna. Murid perlu membina sesuatu pengetahuan mengikuti pengalaman masing-masing. Pembelajaran adalah hasil daripada usaha murid
itu sendiri dan guru tidak boleh belajar untuk murid. Blok binaan asas bagi
ilmu pengetahuan sekolah ialah satu skema yaitu aktivitas mental yang
digunakan oleh murid sebagai bahan mentah bagi proses renungan dan
pengabstrakan. Murid tidak akan berpikir untuk menghadapi realita yang berwujud
asing disekitarnya.
Realita yang diketahui murid adalah realita
yang dibina sendiri. Murid sebenarnya telah mempunyai satu set ide dan
pengalaman yang membentuk struktur kognitif terhadap lingkungan
sekitar mereka. Untuk membantu murid membina konsep atau pengetahuan baru, guru harus
mengambil struktur
kognitif yang ada pada mereka. Apabila maklumat baru telah disesuaikan dan
diserap untuk dijadikan sebagian pegangan kuat mereka, barulah
kerangka baru tentang suatu bentuk ilmu pengetahuan dapat dibina.
2.1.2. Tokoh-tokoh dalam teori
konstruktivisme
1. Jean Piaget
Salah satu
teori atau pandangan yang sangat terkenal berkaitan dengan teori belajar
konstruktivisme adalah teori perkembangan mental Piaget. Teori ini biasa juga
disebut teori perkembangan intelektual. Teori belajar tersebut berkenaan dengan
kesiapan anak untuk belajar, yang dikemas dalam tahap perkembangan intelektual
dari lahir hingga dewasa. Setiap tahap perkembangan intelektual yang dimaksud
dilengkapi dengan ciri-ciri tertentu dalam mengkonstruksi ilmu pengetahuan.
Misalnya, pada tahap sensori motor anak berpikir melalui gerakan atau perbuatan.
Selanjutnya,
Piaget yang dikenal sebagai konstruktivis pertama yang menegaskan bahwa pengetahuan tersebut dibangun dalam pikiran anak melalui
asimilasi dan akomodasi. Asimilasi adalah penyerapan informasi baru dalam
pikiran. Sedangkan, akomodasi adalah menyusun kembali struktur pikiran karena
adanya informasi baru, sehingga informasi tersebut mempunyai tempat. Pengertian
tentang akomodasi yang lain adalah proses mental yang meliputi pembentukan
skema baru yang cocok dengan rangsangan baru atau memodifikasi skema yang sudah ada sehingga cocok dengan
rangsangan.
Lebih jauh
Piaget mengemukakan bahwa pengetahuan tidak diperoleh secara pasif oleh
seseorang, melainkan melalui tindakan. Bahkan, perkembangan kognitif anak bergantung
pada seberapa jauh mereka aktif memanipulasi dan berinteraksi dengan
lingkungannya. Sedangkan, perkembangan kognitif itu sendiri merupakan proses
berkesinambungan tentang keadaan ketidak-seimbangan dan keadaan keseimbangan. Dari pandangan Piaget tentang tahap perkembangan kognitif anak dapat
dipahami bahwa pada tahap tertentu cara maupun kemampuan anak mengkonstruksi
ilmu berbeda-beda berdasarkan kematangan intelektual anak.
Berkaitan
dengan anak dan lingkungan belajarnya menurut pandangan konstruktivisme, Driver
dan Bell mengajukan karakteristik sebagai berikut:
a.
Siswa tidak dipandang sebagai sesuatu yang pasif melainkan memiliki tujuan
b.
Belajar mempertimbangkan seoptimal mungkin proses
keterlibatan siswa
c.
Pengetahuan bukan sesuatu yang datang dari luar melainkan dikonstruksi
secara personal,
d.
Pembelajaran bukanlah transmisi pengetahuan, melainkan melibatkan pengaturan
situasi kelas
e.
Kurikulum bukanlah sekedar dipelajari, melainkan seperangkat pembelajaran, materi, dan sumber.
Pandangan
tentang anak dari kalangan konstruktivistik yang lebih mutakhir yang
dikembangkan dari teori belajar kognitif Piaget menyatakan bahwa ilmu
pengetahuan dibangun dalam pikiran seorang anak dengan kegiatan asimilasi dan
akomodasi sesuai dengan skema yang dimilikinya. Belajar merupakan proses aktif
untuk mengembangkan skemata sehingga pengetahuan terkait bagaikan jaring
laba-laba dan bukan sekedar tersusun secara hirarkis.
Dari pengertian
di atas, dapat dipahami bahwa belajar adalah suatu aktivitas yang berlangsung
secara interaktif antara faktor intern pada diri pebelajar dengan faktor
ekstern atau lingkungan, sehingga melahirkan perubahan tingkah laku.
Berikut adalah
tiga dalil pokok Piaget dalam kaitannya dengan tahap perkembangan intelektual
atau tahap perkembangan kognitif atau biasa juga disebut tahap perkembagan
mental. Ruseffendi (1988: 133) mengemukakan:
a. perkembangan intelektual terjadi
melalui tahap-tahap beruntun yang selalu terjadi dengan urutan yang sama.
Maksudnya, setiap manusia akan mengalami urutan-urutan tersebut dan dengan
urutan yang sama
b. tahap-tahap tersebut
didefinisikan sebagai suatu cluster dari operasi mental (pengurutan,
pengekalan, pengelompokan, pembuatan hipotesis dan penarikan kesimpulan) yang
menunjukkan adanya tingkah laku intelektual
c. gerak melalui tahap-tahap
tersebut dilengkapi oleh keseimbangan (equilibration), proses pengembangan yang
menguraikan tentang interaksi antara pengalaman (asimilasi) dan struktur
kognitif yang timbul (akomodasi).
2. Vygotsky
Berbeda dengan
kontruktivisme kognitif ala Piaget, konstruktivisme sosial yang dikembangkan
oleh Vigotsky adalah bahwa belajar bagi anak dilakukan dalam interaksi dengan
lingkungan sosial maupun fisik. Penemuan atau discovery dalam belajar lebih
mudah diperoleh dalam konteks sosial budaya seseorang. Dalam penjelasan lain mengatakan bahwa inti konstruktivis Vigotsky adalah interaksi antara aspek
internal dan ekternal yang penekanannya pada lingkungan sosial dalam belajar.
Beberapa ahli
konstruktivisme yang terkemuka berpendapat bahwa pembelajaran yang bermakna itu
bermula dengan pengetahuan atau pengalaman sedia ada murid. Rutherford dan Ahlgren berpendapat bahawa murid mempunyai ide mereka
sendiri tentang hampir semua perkara, di mana ada yang betul dan ada yang
salah. Jika kepahaman dan miskonsepsi ini diabaikan atau tidak ditangani dengan
baik, kepahaman atau kepercayaan asal mereka itu akan tetap kekal walaupun
dalam pemeriksaan mereka mungkin memberi jawaban seperti yang dikehendaki oleh
guru.
John Dewey
menguatkan lagi teori konstruktivisme ini mengatakan bahawa pendidik yang cekap
harus melaksanakan pengajaran dan pembelajaran sebagai proses menyusun atau
membina pengalaman secara berterusan. Beliau juga menekankan kepentingan
penyertaan murid di dalam setiap aktivitas pengajaran dan pembelajaran.
Dari
persepektif epistemologi yang disarankan dalam konstruktivisme fungsi guru akan
berubah. Perubahan akan berlaku dalam teknik pengajaran dan pembelajaran,
penilaian, penyelidikan dan cara melaksanakan kurikulum. Sebagai contoh, perspektif
ini akan mengubah kaedah pengajaran dan pembelajaran yang menumpu kepada
kejayaan murid meniru dengan tepat apa saja yang disampaikan oleh guru kepada
kaedah pengajaran dan pembelajaran yang menumpu kepada kejayaan murid membina
skema pengkonsepan berdasarkan kepada pengalaman yang aktif. Ia juga akan
mengubah tumpuan penyelidikan daripada pembinaan model daripada kaca mata guru
kepada pembelajaran sesuatu konsep daripada kaca mata murid.
2.1.3. Ciri-ciri konstruktivisme
Ada beberapa ciri tentang konstruktivisme, antara
lain:
1.
. Pengetahuan dibangun oleh siswa sendiri
2.
Pengetahuan tidak dapat dipindahkan dari guru ke
murid, kecuali hanya dengan keaktifan murid sendiri untuk menalar
3.
Murid aktif megkontruksi secara terus menerus,
sehingga selalu terjadi perubahan konsep ilmiah
4.
Guru sekedar membantu menyediakan saran dan
situasi agar proses kontruksi berjalan lancar
5.
pembalajaran seputar konsep utama pentingnya
sebuah pertanyaan
Selain itu yang paling penting adalah guru tidak boleh hanya
semata-mata memberikan pengetahuan kepada siswa . siswa harus membangun
pengetahuan didalam benaknya sendiri. Seorang guru dapat membantu proses ini
dengan cara-cara mengajar yang membuat informasi menjadi sangat bermakna dan
sangat relevan bagi siswa, dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk
menemukan atau menerapkan sendiri ide-ide dan dengan mengajak siswa agar
menyadari dan menggunakan strategi-strategi mereka sendiri untuk belajar. Guru
dapat memberikan tangga kepada siswa yang mana tangga itu nantinya dimaksudkan
dapat membantu mereka mencapai tingkat pemahaman yang lebih tinggi , tetapi
harus diupayakan agar siswa itu sendiri yang memanjatnya.
2.1.4. Kelebihan dan Kekurangan Konstruktivisme
a.
Kelebihan
Murid berfikir untuk menyelesaikan masalah, menjana idea dan
membuat keputusan. Faham kerana
murid terlibat secara langsung dalam mebina pengetahuan baru, mereka akan lebih
faham dan boleh mengapliksikannya dalam semua situasi. Selian itu murid
terlibat secara langsung dengan aktif, mereka akan ingat lebih lama semua
konsep.
Kemahiran sosial diperoleh apabila
berinteraksi dengan rekan dan guru dalam membina pengetahuan baru; Adanya
motivasi untuk siswa bahwa belajar adalah tanggung jawab siswa itu sendiri; Mengembangkan
kemampuan siswa untuk mengejukan pertanyaan dan mencari sendiri pertanyaannya;
Membantu siswa untuk mengembangkan pengertian dan pemahaman konsep secara
lengkap; Mengembangkan kemampuan siswa untuk menjadi pemikir yang mandiri;
Lebih menekankan pada proses belajar bagaimana belajar itu.
b. Kelemahan
Dalam bahasan kekurangan atau kelemahan ini mungkin bisa kita
lihat dalam proses belajarnya dimana peran guru sebagai pendidik itu sepertinya
kurang begitu mendukung; siswa berbeda persepsi satu dengan yang lainnya.
2.2
Akar sejarah
konstruktivisme
Di dalam sejarah psikologi pendidikan, revolusi
konstruktivisme mempunyai akar sejarah yang panjang. Pendekatan yang dilandasi
teori konstruktivisme ini sumber utamanya adalah karya Jean Piaget dan Lev Vigotsky.
Baik Piaget maupun Vygotsky menekankan sifat sosial pembelajaran, mereka juga
menyarankan penggunaan kelompok-kelompok dalam belajar dengan kemampuan
campuran (bervariasi) untuk meningkatkan terjadinya perubahan konsepsi pada
diri pebelajar atau siswa.
Konstruktivis modern paling banyak dilandasi oleh teori Vygotsky, yang telah digunakan untuk mendukung metode pengajaran di ruang kelas yang menekankan pembelajaran kerja sama (pembelajaran kooperatif) dan berbasis proyek, dan pembelajaran penemuan (discovery-inquiry).
Konstruktivis modern paling banyak dilandasi oleh teori Vygotsky, yang telah digunakan untuk mendukung metode pengajaran di ruang kelas yang menekankan pembelajaran kerja sama (pembelajaran kooperatif) dan berbasis proyek, dan pembelajaran penemuan (discovery-inquiry).
Ada empat gagasan utama
Vygotsky yang sangat penting, yaitu:
a. Penekanan pada sifat sosial pembelajaran
Anak bejar melalui
interaksi bersama orang dewasadan teman yang lebih mampu. Pada proyek-proyek
kerjasama, anak-anak dihadapkan pada proses pemikiran teman-teman mereka.
Metode demikian tidak hanya memungkinkan hasil pembelajaran tersedia bagi semua
siswa, tetapi juga memungkinkan proses berpikir siswa yang lebih mampu tersedia
bagi siswa-siswa yang lain. Vygotsky menulis bahwa, orang-orang yang berhasil
memecahkan masalah mengungkapkan diri melalui masalah-masalah yang sulit. Dalam
sebuah kelompok kooperatif, anak-anak dapat mendengarkan pembicaraan batin ini
dengan lantang dan dapat mempelajari cara orang-orang yang berhasil memecahkan
masalah berpikir melalui pendekatan mereka.
b. Zona perkembangan proksimal
Vygotsky mempunyai
gagasan bahwa anak-anak paling baik mempelajari konsep yang berada pada zona
perkembangan proksimal mereka. Anak-anak yang bekerja dalam zona perkembangan
proksimal mereka terlibat dalam tugas yang tidak dapat mereka kerjakan sendiri
tetapi dapat mengerjakannya dengan sedikit bantuan teman atau orang dewasa.
c. Masa
magang kognisi
Istilah masa magang
kognisi (cognitive apprenticeship) merujuk pada proses yang digunakan
oleh seorang pebelajar untuk secara bertahap memperoleh keahlian melalui
interaksi dengan pakar, apakah orang tua, guru, atau teman yang lebih tua atau
lebih berhasil. Di banyak pekerjaan, karyawan baru bekerja erat dengan seorang
pakar yang menjadi contoh baginya, memberikan umpan balik, dan secara bertahap
mensosialisasikan karyawan baru itu kepada kaidah dan perilaku profesi
tersebut. Pengajaran untuk siswa adalah suatu bentuk masa magang. Para ahli
teori konstruktivisme menyarankan agar guru mengalihkan model pembelajaran yang
berlangsung lama dan sangat efektif ini ke dalam ruang-ruang kelas. Guru dapat
melibatkan siswa dalam tugas-tugas rumit dan melibatkan siswa dalam
kelompok-kelompok belajar yang heterogen dan kooperatif di mana siswa yang
lebih maju membantu siswa yang kurang maju melalui tugas-tugas yang rumit
tersebut.
d. Pembelajaran
termediasi
Vygotsky menekankan
pada gagasan tentang perancahan atau pembelajaran termediasi. Gagasan
Penafsiran tentang gagasan Vygotsky yang satu ini adalah, siswa seharusnya
diberikan tugas-tugas yang rumit, sulit, dan realistis. Kemudian, mereka
diberikan cukup bantuan untuk mencapai tugas-tugas ini. Harus dicatat bahwa,
diberikan bantuan di sini maksudnya, siswa bukannya diajarkan bagian-bagian
kecil pengetahuan. Prinsip ini digunakan untuk mendukung penggunaan tugas
proyek di ruang kelas, simulasi, penjajakan dalam komunitas, penulisan untuk
pembaca yang sesungguhnya, dan tugas-tugas otentik lainnya. Berkaitan dengan
hal ini, ada istilah "pembelajaran situasi" (situated learning), yang
mengacu pada digunakannya pembelajaran yang berlangsung dalam tugas-tugas
otentik kehidupan nyata.
2.3
Strategi belajar konstruktivisme
Konsep belajar konstruktivisme menyatakan bahwa pengetahuan
dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui
konteks yangterbatas dan tidak sekonyong-konyong (Baharudin dan Wahyuni,
2007:116). Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep, atau kaidah
yang siapuntuk diambil dan diingat. Siswa harus mengonstruksikan pengetahuan
itu danmemberi makna melalui pengalaman nyata (Trianto, 2007). Dengan menggunakan pendekatan
konstuktivistik, pembelajaran dilakukan bersama-sama oleh guru dengan peserta didik dengan
produk kegiatan adalah membangun persepsi dan cara pandang siswa mengenai
materi yang dipelajari, mengembangkan masalah baru, dan membangun konsep-konsep
baru dengan menggunakan evaluasi yang dilakukan pada saat kegiatan pembelajaran
berlangsung.
Dalam pembelajaran akan terjadi suatu proses dialog antara guru
dan peserta didik dengan mengembangkan pengalaman yang telah dimiliki oleh
siswa dalam pembelajaran(Anggara, 2007).Strategi belajar konstruktivisme yang
digunakan dalam pembelajaran sejarah kontroversial menggunakan strategi yang
diungkapkan Slavin seperti dikutipBaharuddin dan Wahyuni, 2007 (127-129) yakni
:
1. top down processing, dimana pembelajaran dimulai dari permasalahan
yang kompleks untuk dipecahkan,kemudian menghasilkan keterampilan yang
dibutuhkan,
2. cooperative
learning,yang menekankan
pada lingkungan sosial belajar dan menjadikan kelompok belajar sebagai
tempat untuk mendapatkan pengetahuan, mengeksplorasipengetahuan, dan menantang
pengetahuan yang dimiliki oleh individu (Baharuddin dan Wahyuni, 2007:128),
3. generative
learning, yang menekankan
pada kemampuan untuk generalisasi dari apa yang diajarkan dengan skemata,
baik melalui pembuatan pertanyaan, kesimpulan, atau analogi-analogi
terhadap apa yang sedang dipelajari.
BAB III
KESIMPULAN
1. Menurut
paham konstruktivisme, ilmu
pengetahuan sekolah tidak dipindahkan dari guru kepada murid dalam bentuk yang serba sempurna. Murid perlu membina sesuatu pengetahuan mengikuti pengalaman masing-masing. Pembelajaran adalah hasil
daripada usaha murid itu sendiri dan guru tidak boleh belajar untuk murid. Blok
binaan asas bagi ilmu pengetahuan sekolah ialah satu skema yaitu aktivitas mental yang digunakan oleh murid sebagai bahan mentah
bagi proses renungan dan pengabstrakan.
2. Di dalam sejarah psikologi pendidikan, revolusi
konstruktivisme mempunyai akar sejarah yang panjang. Pendekatan yang dilandasi
teori konstruktivisme ini sumber utamanya adalah karya Jean Piaget dan Lev
Vigotsky. Baik Piaget maupun Vygotsky menekankan sifat sosial pembelajaran,
mereka juga menyarankan penggunaan kelompok-kelompok dalam belajar dengan
kemampuan campuran (bervariasi) untuk meningkatkan terjadinya perubahan
konsepsi pada diri pebelajar atau siswa.
3.
Strategi belajar
konstruktivisme diantaranya :
•Top-down
processing : belajar dari masalah yang kompleks untuk dipecahkan, kemudian
menghasilkan sesuatu yang dibutuhkan.
•Cooperative
learning : belajar untuk menemukan secara komprehensif konsep2 yang sulit jika
didiskusikan dengan siswa yang lain/kelompok belajar.
•Generative
learning : adanya interaksi yang aktif antara materi atau pengetahuan yang baru
melalui skemata. Metode ini melakukan kegiatan mental saat belajar, seperti
membuat pertanyaan, kesimpulan, atau analogi yang sedang dipelajari.
DAFTAR
PUSTAKA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar