BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Menurut
Skinner penyelidikan mengenai kepribadian hanya sah jika memenuhi beberapa
kriteria ilmiah. Ia tidak akan menerima gagasan bahwa kepribadian atau
personality atau self yang membimbing atau mengarahkan perilaku. Dalam hal ini
Skinner membedakan perilaku menjadi dua yaitu perilaku yang alami dan periku
operant, perilaku alami menurutnya adalah perilau yang ditimbulkan oleh
stimulus yang jelas sedangkan perilaku operant adalah perilaku yan ditimbulkan
stimulus yang tidak jelas atau tidak diketahui tetapi semata – mata dihasilkan
oleh organisme itu sendiri.
Bagi
Skinner, faktor motifasional dalam tingkah laku bukanlah elemen dari suatu struktural dalam situasi
yang sama dengan tingkah laku seseorang yang bisa berbeda – beda kekuatan dan
keseringan munculnya. Hakikat dari teori Skinner ini adalah teori belajar
bagaimana individu memiliki tingkah laku baru menjadi lebih terampil dan menjadi
lebih tahu. Skinner meyakinkan bahwa kepribadian dapat dipahami dengan
mempertimbangkan tingkah laku dalam hubungannya yang terus – menerus dengan
lingkungannya. Sedangkan cara untuk mengontrol perilaku adalah dengan melakukan
penguatan (reinforcement) suatu strategi kegiatan yang dapat membuat tingkah
laku tertentu berpeluang untuk terjadi atau sebaliknya berpeluang tidak terjadi
pada masa yang akan datang.
Berdasarkan
uraian diatas, maka penting bagi penulis untuk mengangkat judul “ KONSEP
BELAJAR BEHAVIORISME MENURUT B.F. SKINNER“, dengan tujuan memberikan
pengetahuan dan informasi bagi para pembaca.
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1
Bagaimanakah
Latar Belakang Teori Skinner?
1.2.2
Bagaimanakah
Konsep Teori Skinner?
1.2.3
Bagaimanakah
Asumsi-asumsi teori Operarant Conditioning?
1.2.4
Bagaimanakah
Komponen Proses Belajar Menurut Skiner?
1.2.5
Bagaimanakah
Pokok -pokok teori Skinner?
1.2.6
Apakah yang
dimaksud dengan Penguat, Pembentukan, Stimulus Adersif, dan modifikasi dalam
teori Behavionism?
1.3 Tujuan Penulisan
1.3.1
Untuk
mengetahui Latar Belakang Teori Skinner.
1.3.2
Untuk
mengetahui Konsep Teori Skinner.
1.3.3
Untuk
mengetahui Asumsi-asumsi
teori Operarant Conditioning.
1.3.4
Untuk
mengetahui Komponen Proses
Belajar Menurut Skiner.
1.3.5
Untuk mengetahui Pokok -pokok teori Skinner.
1.3.6
Untuk
mengetahui Penguat, Pembentukan, Stimulus Adersif, dan Modifikasi dalam teori
Behavionism.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Latar Belakang Teori Skinner
Seorang aliran Behavioris yaitu Ivan
P. Pavlov sangat memusatkan perhatiannya pada masalah reflex, karena itu juga
Psikologi Pavlov sering disebut sebagai psikologi reflex atau psychore flxology.
Eksperimen Pavlov yaitu dengan menggunakan anjing sebagai bahan uji coba,
melahirkan sebuah teori mengenai pengkondisian klasik atau sering disebut
Classical Conditioning. Mekanismenya yaitu dengan memasangkan Unconditioned
Stimulus bersama Conditioned Stimulusyang pada akhirnya menciptakan Conditioned
Response. Hal yang dikemukakan oleh Pavlov ini sedikit banyak mempunyai
pengaruh terhadap ketertarikan Skinner mengenai pengkondisian tingkah laku.
Para pengamat perilaku manusia sudah
tahu kalau manusia umumnya melakukan hal-hal yang memiliki kosekuensi menyenangkan
dan menghindar dari melakukan hal-hal yang memiliki konsekuensi tidak
menyenangkan. Orang yang pertama kali mempelajari perilaku secara sistematis
adalah Edward L.Thorndike, yang awalnya bekerja dengan hewan, dan kemudian
dilanjutkan dengan manusia. Thorndike dalam percobaanya tersebut mendapatkan
kesimpulan mengenai perilaku yang teorinya tersebut disebut sebagai law of
effect. Seperti, dikatakan oleh Thorndike bahwa perilaku law of effect
memilikidua bagian; pertama menyatakan bahwa respon-respon terhadap stimulus
yang langsung diikuti rasa puas cenderung "dilekatkan terhadap diri",
sementara bagian kedua menyatakan stimulus yang langsung diikuti rasa kecewa
"cenderung dilekatkan dari luar". Jika penghargaan (rasa puas)
memperkuathubungan antara stimulus dan respon, maka hukuman (rasa kecewa) tidak
lantas menghilangkan hubungan ini. Artinya, menghukum sebuah perilaku sama saja
dengan menghambat perilaku tersebut, Bukannya "melekatkan dari luar".
Kemudian pengaruh
ketiga dan yang lebih langsung terhadap Skinner adalah pekerjaan JhonB. Watson.
Watson berpendapat bahwa perilaku manusia, seperti halnya hewan dan mesin,
dapat dipelajari dengan objektif. Manusia menyerang bukan hanya kesadaran dan
instrospeksi namun, juga konsep insting, sensasi, persepsi, motivasi,
kondisi-kondisi mental, jiwa dan imajinasi, Watson berpendapat bahwa tujuan
psikologi adalah memprediksi dan mengontrol perilaku, dan tujuan ini bisa
dicapai hanya dengan membatasi psikologi sebagai studi yang objektif tentang
kebiasaan yang terbentuk melalui Stimulus-Respon. Seperti halnya Thorndike dan
Watson sebelumnya, Burrhus Federic Skinner atau yang lebih dikenal dengan
Skinner menekankan bahwa perilaku manusia mestinya dipelajari secara ilmiah.
Kemudian Skinner menemukan sebuah konsep perilaku yang disebutnya dengan
Operant Conditioning. Skinner adalah Seorang psikolog kelahiran Susquehanna,
Pennsylvania 20 Maret 1904 dan wafat tahun 1990dikarenakan penyakit Leukimia.
Skinner berasal dari keluarga sederhana, Ibunya sebagai ibu rumah tangga dan
Ayahnya seorang jaksa. Skinner mendapat gelar Sarjana Psikologi dan gelar
Doktor dari Universitas Harvard. Pada tahun 1938, Skinner menerbitkan bukunya
yang berjudul The Behavior ofOrganism dan buku itupun menjadi inspirasi
diadakannya konferensi tahunanyang dimulai tahun 1946 dalam masalah "The
Experimental an Analysis ofBehavior". Hasil konferensi dimuat dalam
jurnal berjudul Journal ofthe Experimental Behaviors yang disponsori oleh
Asosiasi Psikologi diAmerika. Tahun 1945, ia menjadi ketua fakultas psikologi
di Universitas Indiana, tiga tahun kemudian beliau mengajar dan berkarir di
Universitas Harvard hingga wafat. Disamping tertarik dengan psikologi, Skinner
juga tertarik menjadi novelis, bahkan pergi ke Inggris untuk belajar menjadi penulis,
dan sempat bekerja di Greenwich Village, New York. B.F. Skinner mengemukakan
pendapatnya bahwa lingkungan (orang tua, guru, dan teman sebaya) memberikan
reaksi terhadap perilaku kita baik dengan cara menguatkan atau menghapus perilaku
tersebut. Lingkungan mempunyai pengaruh yang jauh lebih besar dalam belajar dan
prilaku kita. Lingkungan memegang peranan kunci untuk memahami perilaku.
2.2 Konsep
Teori Skinner
Skinner bekerja dengan tiga asumsi
dasar, dimana asumsi pertama dan kedua pada dasarnya menjadi asumsi psikologi
pada umumnya, bahkan menjadi merupakan asumsi semua pendekatan ilmiah.
·
Tingkah laku
itu mengikuti hukum tertentu (behavior ofl awful). Ilmu adalah usaha untuk
menemukan keteraturan, menunjukkan bahwa peristiwa tertentu berhubungan secara
teratur dengan peristiwa lain.
·
Tingkah laku
dapat diramalkan (behavior can be predicted). Ilmu bukan hanya menjelaskan,
tetapi juga meramalkan. Bukan hanya menangani peristiwa masa lalu tetapi juga peristiwa
yang akan datang. Teori yang berdaya guna adalah yang memungkinkan dapat
dilakukannya prediksi mengenai tingkah laku yang akan datang dan menguji
prediksi itu.
·
Tingkah laku
dapat dikontrol (Behavior can be controlled). Ilmu dapat melakukkan antisipasi
dan menentukan/membentuk (sedikit-banyak)
tingkah laku seseorang. Skinner bukan hanya ingin tahu bagaimana terjadinya
tingkah laku, tetapi dia sangat berkeinginan untuk memanipulasinya. Pandangan
ini bertentangan dengan pandangan tradisional yang menganggap manipulasi
sebagai serangan terhadap kebebasan pribadi. Skinner memandang tingkah laku
sebagai produk kondisi anteseden tertentu, sedangkan pandangan tradisional
berpendapat tingkah laku merupakan produk perubahan dalam diri secara spontan.
Skinner membedakan perilaku atas :
·
Perilaku
alami (innate behavior), yang kemudian disebut juga sebagai clasical ataupun
respondent behavior, yaitu perilaku yang diharapkan timbul oleh stimulus yang
jelas ataupun spesifik, perilaku yangbersifat refleksif.
·
Perilaku
operan (operant behavior), yaitu perilakuyang ditimbulkan oleh stimulus yang
tidak diketahui, namun semata-mata ditimbulkan oleh organisme itu sendiri
setelah mendapatkan penguatan.
Skinner yakin jika kebanyakan
perilaku manusia dipelajari lewat Operant Conditioning atau pengkondisian
operan, yang kuncinya adalah penguatan segera terhadap respons. Operant Conditioning
adalah suatu proses penguatan perilaku yang dapat mengakibatkan perilaku
tersebut dapat berulang kembali atau menghilang sesuai dengan keinginan.
2.3 Asumsi-asumsi teori Operarant Conditioning
Sebagai penganut aliran perilaku, skiner setuju dengan pendapat
Watson yang mengatakan bahwa belajar merupakan proses perubahan perilaku. Ada 6
asumsi dasar dari teori Operant Conditioning, yaitu:
a.
Hasil belajar Merupakan perilaku yang dapat diamati.
b.
Perubahan perilaku sebagai hasil belajar secara fungsional
berhubungan dengan perubahan situasi dalam lingkungan atau suatu kondisi.
c.
Hubungan antara perilaku dan lingkungan dapat ditentukan hanya jika
elemen-elemen perilaku dan kondisi percobaan diukur secara fisik dan diamati
perubahannya dalam situasi yang terkontrol tetap.
d.
Data yang dihasilkan oleh percobaan-percobaan terhadap perilaku
merupakan satu-satunya data yang dapat digunakan untuk mengkaji alasan
munculnya suatu perilaku.
e.
Sumber data yang paling dekat adalah perilaku dari masing-masing
individu.
f.
Dinamika interaksi antara individu dengan lingkungannya bersifat
relatif sama untuk semua jenis makhluk hidup.
Pada awalnya, asumsi-asumsi tersebut digunakan sebagai landasan
dari penelitian-penelitian yang dilakukan Skiner dalam bentuk serangkaian
percobaan menggunakan tikus dan merpati. Namun pada akhirnya, ke enam asumsi
dasar tersebut menjadi kesimpulkan yang idambil oleh Skiner atas hasil percobaan
yang dilakukannya. Bahkan, Skiner menyatakan bahwa penelitian yang dilakukannya
dalam situasi laboratorium, ternyata dapat diaplikasikan kepada situasi
perilaku manusia secara umum.
2.4 Komponen
Proses Belajar Menurut Skiner
Komponen Proses Belajar Menurut Skiner terdiri dari Stimulus yang
didiskriminatif (Discriminative Stimulus) dan penguatan (positif dan negatif,
serta hukuman) untuk menghasilkan respon (perubahan tingkah laku). Stimulus
yang diskriminatif menurut skiner merupakan stimulus yang selalu hadir untuk
pemunculan suatu respon.kunci berwarna Merah merupakan Stimulus yang
diskriminatif dalam percobaan skiner terhadap burung merpati. Jika mematuk
kunci merah, maka merpati akan memperoleh makanan. Setelah beberapa kali
pengulangan, jika kunci diganti warna maka merpati tidak akan mematuk. Makanan
dalam hal ini berfungsi sebagai faktor penguatan. Kemungkinan pemunculan respon
dapat dimaksimalkan dengan kehadiran stimulus diskriminatif. Jika ada stimulus
lain yang memiliki persamaan dengan stimulus diskriminatif, maka respon dapat
dimunculkan kembali. Misalnya, merpati akan mematuk tongkat bercahaya merah,
dan lain sebagainya. Hal ini yang seing disebut sebagai perampatan stimulus
(stimulus Generalization).
2.5 Pokok -pokok
teori Skinner
2.5.1 Penggugah
(reinforcement)
Sistem yang ditawarkan B.F. Skinner didasarkan pada
cara kerja yang menentukan (operan conditioning). Setiap makhluk hidup pasti
selalu dla proses melakukan sesuatu. Terhadap lingkungannya,selama melakukan
proses operasi ini ,makhluk hiduptersebut pasti meneroma stimmulus -stimulus
tertentu yangdisebut dengan stimulus penggugah. Stimulus tersebut berdampak
pada meningkatnya proses cara kerja tadi yaitu adanya penggugah (reinforcement)
inilah yang disebut dengan “cara kerja yang menentukan ” dalam perilaku pasti
menghasilkan konsekuensi -konsekuensi tertentu dan kosekuensi -onsekuensi ini
akan mengubah kecenderungan mahluk hidup untuk mengulangi perilaku yang sama.
Ketentuan penggugah dalam teori Skinner adalah seagai berikut
“perilaku yang diikuti oleh stimulus penggugah akan
memperbesar kemungkinan dilaukannya kembali
perilaku tersebut di masa-masa berikutnya. Perilaku yang tidak diikuti oleh
stimulus – stimulus penggugah memperkecil kemungkinan dilakukannya kembali
perilaku tersebut di masa – masa berikutnya.”
2.5.2
Teori Kepribadian
Behavioristik
Menurut Skinner pendidikan mengenai kepribadian
hanya sah jika mematuhi kriteria ilmiah. penyelidikan mengenai kepribadian
melibatkan pengamatan yang sistematis dan sejarah belajar yang khas serta latar
bealakng yang unik dari individu .Menurut Skinner individu adalah organisme
yang memperoleh perbendaharaan tingkah lakunya melalui belajar, individu
bukanlah agen penyebab tingkah laku melainkan suatu point antara faktor – faktor
lingkungandan bawaan yang khas serta secara bersama- sama menghasilkan akibat
tingkah laku yang khas pula pada individu tersebut. Skinner telah menguraikan
sejumlah teknik yang digunakan untuk mengontrol perilaku yang dipelajari oleh
social learning theorist yang tertarik pada modeling modifikasi perilaku
.teknik itu adalah sebagai berikut :
1.
Pengekangan
fisik ( physical restrains) yaitu kita mengontrol perilaku dengan melakukan
pengekangan secara fisik. Contoh, beberapa dari kita menutup mulut untuk
menghidari diri dari menertawakan kesalahan orang.
2.
Bantuan
fisik ( physical aids) kita mengontrol perilaku dengan melakukan bantuan fisik.
contoh: seorang pengemudi truk minum obat perangsang anti kantuk agar tidak
mengantuk saat mengemudi di perjalanan jauh.
3.
Mengubah
stimulus (changing the stimulus conditions) yaitu ketika ada stimulus yang
diinginkan oleh individu, maka stimulus itu diubah dengan stimulus yang lain.contoh,
orang yang berkelebihan berat badan menyisihkan sekotak permen dari hadapannya.
4.
Memanipulasi
kondisi emosional (manipulasing emosional conditions), kita mengubah emosional
yang ada dalam diri kita untuk mengontrol diri ,kita membuat dia sendiri
memiliki suasana hati yang baik sebelum menghadiri pertemuan yang membuat
stress agar dapat menunjukkan perilaku yang tepat.
5.
Melakukan
respons lain (performing alternative responses), menahan diri dari perilaku
yang membawa hukuman dengan melakukan yang lain. contoh,untuk menahan diri agar
kita tidak menyerang orang yang tidak kita sukai, kita melakukan tindakan yang
tidak berhubungan dengan pendapat kita tentang mereka.
6.
Menguatkan
diri secara positif ( positive self reinforcement). Contohnya kita memberi
hadiah pada diri sendiri karena mendapat nilai baik dalam ujian.
7.
Menghukum
diri sendiri ( Self Punishment ), seorang menghukum diri sendiri karena gagal
mencapai tujuan yang hendak diinginkan. contohnya,seorang mahasiswa menghukum
diri sendiri karena gagal dengan giat belajar.
2.6 Penguat, Pembentukan, Stimulus Adersif, dan
Modifikasi dalam teori Behaviorism.
2.6.1 Daftar
Penguatan (Reinforcement schedule)
Dalam eksperimen yang dilakukan oleh skinner, penguat
tidak selalu diberikan setiap kali binatang percobaan melakukan tindakan yang
dikehendaki ,walaupun demikian perilaku operan masih menjadi seperti biasa .
frekuensi pemberian penguatan atau pegaturan waktu disebu dengan “reinforcement
schedules”. Penguatan yang diberikan pada waktu – waktu tertentu
disebut degan partial reinforcemen.
Sebagai contoh nya orang tua tidak selama- lamanya
bersama dengan orang tuanya oleh karena itu penguatan positif tidak selalu
dapatdiberikan setiap kali anak melakukan tindakan yang dikehendari, prestasi
yang dilakukan oleh anak walupun hanya satu kali akan membuat anak yang
bersangkutan giat untuk berlatih.
Jadwal penguatan bervariasi menurut
pemberian conditional stimulus , ada dua kategori penjadwalan yang dilakukan
oleh Skinner yaitu:
1.
Pemberian
penguatan didasarkan pada jumlah respond an pemberia penguat berdasarkan waktu
2.
Pemberian
penguatan secara teratur dan tidak teratur
Selain itu Skinner juga membuat empat jadwal penguatan
yaitu,
1.
Fixed ratio yaitu
jumlah respon tertentu menentukan kapan penguatan diberikan
2.
Fixed
interaval yaitu selang waktu tertentu ( misalnya 5 menit )
menentukan pemberian penguatan berikutnya
3.
Variabel
ratio yaitu jumlah perilaku responden yang terjadi tidak
ditientukan secara kaku.
4.
Variable
interval yaitu waktu pemberian penguat divariasi diantara
selang waktu tertentu
Jadwal
penguatan
|
Tipe jadwal
|
Jika
penguat diberikan
|
Akibat
terhadap rate of responding
|
|
Fixed
ratio
|
Setealh
sejumlah tertentu penekanan tombol
|
Perilaku
terjadi sangat sering lalu pause sebentar setelah penguat diberikan
|
|
variabel
ratio
|
Setelah
sejumlah tak tertentu penekanan tombol
|
Perilaku
yang terkaji dengan frekuensi yang cukup tinggi dan konstan
|
|
Fixed
interval
|
Setelah
jangka waktu tertentu
|
Frekuensi
perilaku meningkat pada akhir waktu dan rendah setelah penguat diberikan
|
|
Variable
interval
|
Setelah
selama jangka waktu yang tidak ditentukan
|
Perilaku
terjadi dengan frekuensi rendah tapi konstan
|
2.6.2
Pembentukan ( Shaping )
Salah satu pertanyaan yang dijawab Skinner adalah bagaimana
kita memiliki perilaku yang kompleks. Skinner berusaha menjawab pertanyaan ini
dengan ide pembentukan atau metode perkiraan yang silih berganti. Pada awalnya
ide ini hanya berbentuk perilaku pendorong yang mirip dengan apa yang kita
inginkan sampi perilaku kita tidak sama lagi dengan orang yang biasa dilakukan
orang dalam kehidupan sehari – hari. Sehingga metode seperti ini dipakai dalam
terapi yang disebut dengan desensitisasi sistematis, contohnya ada pada
orang yang mengalami fobia terhadap laba – laba, orang tersebut akan dihadapkan
untuk mengamati laba – laba dalam 10 skenario dengan tingkat kepaikan ang
berbeda – beda.dalam scenario yang pertama tingkat kepanikannya sangat rendah
misalnya seorang yang terkena fobia melihat laba- laba kecil dari jarak jauh
,scenario yang kedua naik menjadi agak sedikit menakutkan dan seterusnya sampai
pada tingkat ke – 10 dengan kepanikan yang sangat menakutkan yaitu ada laba –
laba yang menakutkan menghinggapi wjah orang tersebut ketika mngemudi. Yang
dilakukan seorang terapis dalam menerapi adalah memberikan pengajaran bagaimana
mengendorkan otot –otot pelaku fobia ketika menghadapi situai diatas.
2.6.3
Stimultan Adversif
Stimultan adversif adalah lawan dari stimultan penguat
( reinforcement) tidak menyenangkan bahkan menyakitkan. Pada eksperiment
Siknner jika kita memaksa tikus percobaan untuk melakukan “ X” ia akan
melakukannya secara tidak sempurna ,sehingga definisi ini menggambarkan pengkondisian
yang dikenal dengan “hukuman” sebaliknya jika pada eksperimen diata kita
tukar simulan aversif setelah tikus memperlihatkan perilaku tertentu maka ini
disebut dengan pengaan negative. Ketentuan dalam teori ini adalah:
1.
Perilaku
ynag diikuti oleh stimulant aversif akan memperkecil diulanginya perilaku
tersebut pada masa selanjutnya
2.
perilaku
yang diikuti oleh penghilangan stimultan aversif akan memperbesar kemungkinan
diulanginya perilaku yang sama dimasa selanjutnya
2.6.3 Modifikasi
Perilaku
Modifikasi perilaku atau yang disebut dengan B- Mod
adalah teknik terapi yang didasarkanpada karya – karya Skinner. Cara kerjanya
sangat sederhana yaitu menghilangkan perilaku yang tidak diingini ( dengan cara
menghilangkan penguat ) dan menggantinya dengan perilaku yang dihasrati dengan
penguat. Teknik ini banyak digunakan di lembaga – lembaga seperti rumah sakit
rumah sakit jiwa, panti untuk remaja bermasalah dan penjara, dan ditandai
dengan adanya aturan – aturan tertentu yang berlaku disebuah intitusi secara
eksplisit dan mereka ang menaati akan dihadiahi, tetapi ini tidak nberlaku
secara terus – menerus , ada tenggang waktu untuk memberikan hadiah itu.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
1.
Latar
Belakang Teori Skinner adalah B.F. Skinner mengemukakan pendapatnya bahwa
lingkungan (orang tua, guru, dan teman sebaya) memberikan reaksi terhadap
perilaku kita baik dengan cara menguatkan atau menghapus perilaku tersebut. Lingkungan
mempunyai pengaruh yang jauh lebih besar dalam belajar dan prilaku kita.
Lingkungan memegang peranan kunci untuk memahami perilaku.
2.
Konsep Teori
Skinner adalah Tingkah laku itu mengikuti hukum tertentu (behavior ofl awful),
Tingkah laku dapat diramalkan (behavior can be predicted), Tingkah laku dapat
dikontrol (Behavior can be controlled). Serta Skinner membedakan perilaku atas
: Perilaku alami (innate behavior), dan Perilaku operan (operant behavior).
3.
Asumsi-asumsi teori Operarant Conditioning ada 6, yaitu:
a. Hasil belajar
Merupakan perilaku yang dapat diamati.
b. Perubahan
perilaku sebagai hasil belajar secara fungsional berhubungan dengan perubahan
situasi dalam lingkungan atau suatu kondisi.
c. Hubungan antara
perilaku dan lingkungan dapat ditentukan hanya jika elemen-elemen perilaku dan
kondisi percobaan diukur secara fisik dan diamati perubahannya dalam situasi
yang terkontrol tetap.
d. Data yang
dihasilkan oleh percobaan-percobaan terhadap perilaku merupakan satu-satunya
data yang dapat digunakan untuk mengkaji alasan munculnya suatu perilaku.
e. Sumber data
yang paling dekat adalah perilaku dari masing-masing individu.
f. Dinamika
interaksi antara individu dengan lingkungannya bersifat relatif sama untuk
semua jenis makhluk hidup.
4.
Komponen Proses Belajar Menurut Skiner terdiri dari Stimulus yang
didiskriminatif (Discriminative Stimulus) dan penguatan (positif dan negatif,
serta hukuman) untuk menghasilkan respon (perubahan tingkah laku).
5.
Pokok -pokok
teori Skinner adalah Penggugah (reinforcement), Teori Kepribadian Behavioristik
(Pengekangan fisik ( physical restrains), Bantuan fisik ( physical aids), Mengubah
stimulus (changing the stimulus conditions), Memanipulasi kondisi emosional
(manipulasing emosional conditions), Melakukan respons lain (performing
alternative responses), Menguatkan diri secara positif ( positive self
reinforcement), dan Menghukum diri sendiri ( Self Punishment ).
6. Penguat, Pembentukan, Stimulus Adersif, dan Modifikasi
dalam teori Behaviorism.
3.2 Saran
Berdasarkan makalah
yang telah penulis susun, diharapkan para mahasiswa dapat memahami tentang konsep
belajar Behaviorism menurut B.F. Skinner lebih dalam dan dapat menerapkannya
dengan lebih baik.
DAFTAR PUSTAKA
Abdul
Qodir .2000. Sejarah Psikologi..
Yogyakarta: prismashopie
Paulus
Budiharjo.1997. Mengenal kepribadian Mutakhir. Jakarta: Kanisius
Hardy, Mlacolm dan Heyes,
Steves.1988. Pengantar Psikologi Edisi kedua Cetakan
pertama. P.T. Gelora Aksara Pratama. Jakarta.
Udin
S. Winataputra, dkk. 2007. Teori Belajar
dan Pembelajaran. Jakarta:
Universitas
Terbuka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar