Senin, 10 Maret 2014

KONSEP BELAJAR BEHAVIORISME MENURUT B.F. SKINNER

BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Menurut Skinner penyelidikan mengenai kepribadian hanya sah jika memenuhi beberapa kriteria ilmiah. Ia tidak akan menerima gagasan bahwa kepribadian atau personality atau self yang membimbing atau mengarahkan perilaku. Dalam hal ini Skinner membedakan perilaku menjadi dua yaitu perilaku yang alami dan periku operant, perilaku alami menurutnya adalah perilau yang ditimbulkan oleh stimulus yang jelas sedangkan perilaku operant adalah perilaku yan ditimbulkan stimulus yang tidak jelas atau tidak diketahui tetapi semata – mata dihasilkan oleh organisme itu sendiri.
Bagi Skinner, faktor motifasional dalam tingkah laku bukanlah  elemen dari suatu struktural dalam situasi yang sama dengan tingkah laku seseorang yang bisa berbeda – beda kekuatan dan keseringan munculnya. Hakikat dari teori Skinner ini adalah teori belajar bagaimana individu memiliki tingkah laku baru menjadi lebih terampil dan menjadi lebih tahu. Skinner meyakinkan bahwa kepribadian dapat dipahami dengan mempertimbangkan tingkah laku dalam hubungannya yang terus – menerus dengan lingkungannya. Sedangkan cara untuk mengontrol perilaku adalah dengan melakukan penguatan (reinforcement) suatu strategi kegiatan yang dapat membuat tingkah laku tertentu berpeluang untuk terjadi atau sebaliknya berpeluang tidak terjadi pada masa yang akan datang.  
Berdasarkan uraian diatas, maka penting bagi penulis untuk mengangkat judul “ KONSEP BELAJAR BEHAVIORISME MENURUT B.F. SKINNER“, dengan tujuan memberikan pengetahuan dan informasi bagi para pembaca.








1.2  Rumusan Masalah
1.2.1        Bagaimanakah Latar Belakang Teori Skinner?
1.2.2        Bagaimanakah Konsep Teori Skinner?
1.2.3        Bagaimanakah Asumsi-asumsi teori Operarant Conditioning?
1.2.4        Bagaimanakah Komponen Proses Belajar Menurut Skiner?
1.2.5        Bagaimanakah Pokok -pokok teori Skinner?
1.2.6        Apakah yang dimaksud dengan Penguat, Pembentukan, Stimulus Adersif, dan modifikasi dalam teori Behavionism?

1.3  Tujuan Penulisan
1.3.1        Untuk mengetahui Latar Belakang Teori Skinner.
1.3.2        Untuk mengetahui Konsep Teori Skinner.
1.3.3        Untuk mengetahui Asumsi-asumsi teori Operarant Conditioning.
1.3.4        Untuk mengetahui Komponen Proses Belajar Menurut Skiner.
1.3.5        Untuk mengetahui Pokok -pokok teori Skinner.
1.3.6        Untuk mengetahui Penguat, Pembentukan, Stimulus Adersif, dan Modifikasi dalam teori Behavionism.











BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Latar Belakang Teori Skinner
Seorang aliran Behavioris yaitu Ivan P. Pavlov sangat memusatkan perhatiannya pada masalah reflex, karena itu juga Psikologi Pavlov sering disebut sebagai psikologi reflex atau psychore flxology. Eksperimen Pavlov yaitu dengan menggunakan anjing sebagai bahan uji coba, melahirkan sebuah teori mengenai pengkondisian klasik atau sering disebut Classical Conditioning. Mekanismenya yaitu dengan memasangkan Unconditioned Stimulus bersama Conditioned Stimulusyang pada akhirnya menciptakan Conditioned Response. Hal yang dikemukakan oleh Pavlov ini sedikit banyak mempunyai pengaruh terhadap ketertarikan Skinner mengenai pengkondisian tingkah laku.
Para pengamat perilaku manusia sudah tahu kalau manusia umumnya melakukan hal-hal yang memiliki kosekuensi menyenangkan dan menghindar dari melakukan hal-hal yang memiliki konsekuensi tidak menyenangkan. Orang yang pertama kali mempelajari perilaku secara sistematis adalah Edward L.Thorndike, yang awalnya bekerja dengan hewan, dan kemudian dilanjutkan dengan manusia. Thorndike dalam percobaanya tersebut mendapatkan kesimpulan mengenai perilaku yang teorinya tersebut disebut sebagai law of effect. Seperti, dikatakan oleh Thorndike bahwa perilaku law of effect memilikidua bagian; pertama menyatakan bahwa respon-respon terhadap stimulus yang langsung diikuti rasa puas cenderung "dilekatkan terhadap diri", sementara bagian kedua menyatakan stimulus yang langsung diikuti rasa kecewa "cenderung dilekatkan dari luar". Jika penghargaan (rasa puas) memperkuathubungan antara stimulus dan respon, maka hukuman (rasa kecewa) tidak lantas menghilangkan hubungan ini. Artinya, menghukum sebuah perilaku sama saja dengan menghambat perilaku tersebut, Bukannya "melekatkan dari luar".




Kemudian pengaruh ketiga dan yang lebih langsung terhadap Skinner adalah pekerjaan JhonB. Watson. Watson berpendapat bahwa perilaku manusia, seperti halnya hewan dan mesin, dapat dipelajari dengan objektif. Manusia menyerang bukan hanya kesadaran dan instrospeksi namun, juga konsep insting, sensasi, persepsi, motivasi, kondisi-kondisi mental, jiwa dan imajinasi, Watson berpendapat bahwa tujuan psikologi adalah memprediksi dan mengontrol perilaku, dan tujuan ini bisa dicapai hanya dengan membatasi psikologi sebagai studi yang objektif tentang kebiasaan yang terbentuk melalui Stimulus-Respon. Seperti halnya Thorndike dan Watson sebelumnya, Burrhus Federic Skinner atau yang lebih dikenal dengan Skinner menekankan bahwa perilaku manusia mestinya dipelajari secara ilmiah. Kemudian Skinner menemukan sebuah konsep perilaku yang disebutnya dengan Operant Conditioning. Skinner adalah Seorang psikolog kelahiran Susquehanna, Pennsylvania 20 Maret 1904 dan wafat tahun 1990dikarenakan penyakit Leukimia. Skinner berasal dari keluarga sederhana, Ibunya sebagai ibu rumah tangga dan Ayahnya seorang jaksa. Skinner mendapat gelar Sarjana Psikologi dan gelar Doktor dari Universitas Harvard. Pada tahun 1938, Skinner menerbitkan bukunya yang berjudul The Behavior ofOrganism dan buku itupun menjadi inspirasi diadakannya konferensi tahunanyang dimulai tahun 1946 dalam masalah "The Experimental an Analysis ofBehavior".  Hasil konferensi dimuat dalam jurnal berjudul Journal ofthe Experimental Behaviors yang disponsori oleh Asosiasi Psikologi diAmerika. Tahun 1945, ia menjadi ketua fakultas psikologi di Universitas Indiana, tiga tahun kemudian beliau mengajar dan berkarir di Universitas Harvard hingga wafat. Disamping tertarik dengan psikologi, Skinner juga tertarik menjadi novelis, bahkan pergi ke Inggris untuk belajar menjadi penulis, dan sempat bekerja di Greenwich Village, New York. B.F. Skinner mengemukakan pendapatnya bahwa lingkungan (orang tua, guru, dan teman sebaya) memberikan reaksi terhadap perilaku kita baik dengan cara menguatkan atau menghapus perilaku tersebut. Lingkungan mempunyai pengaruh yang jauh lebih besar dalam belajar dan prilaku kita.  Lingkungan memegang peranan kunci untuk memahami perilaku.





2.2 Konsep Teori Skinner
Skinner bekerja dengan tiga asumsi dasar, dimana asumsi pertama dan kedua pada dasarnya menjadi asumsi psikologi pada umumnya, bahkan menjadi merupakan asumsi semua pendekatan ilmiah.
·         Tingkah laku itu mengikuti hukum tertentu (behavior ofl awful). Ilmu adalah usaha untuk menemukan keteraturan, menunjukkan bahwa peristiwa tertentu berhubungan secara teratur dengan peristiwa lain.
·         Tingkah laku dapat diramalkan (behavior can be predicted). Ilmu bukan hanya menjelaskan, tetapi juga meramalkan. Bukan hanya menangani peristiwa masa lalu tetapi juga peristiwa yang akan datang. Teori yang berdaya guna adalah yang memungkinkan dapat dilakukannya prediksi mengenai tingkah laku yang akan datang dan menguji prediksi itu.
·         Tingkah laku dapat dikontrol (Behavior can be controlled). Ilmu dapat melakukkan antisipasi dan  menentukan/membentuk (sedikit-banyak) tingkah laku seseorang. Skinner bukan hanya ingin tahu bagaimana terjadinya tingkah laku, tetapi dia sangat berkeinginan untuk memanipulasinya. Pandangan ini bertentangan dengan pandangan tradisional yang menganggap manipulasi sebagai serangan terhadap kebebasan pribadi. Skinner memandang tingkah laku sebagai produk kondisi anteseden tertentu, sedangkan pandangan tradisional berpendapat tingkah laku merupakan produk perubahan dalam diri secara spontan.
Skinner membedakan perilaku atas :
·         Perilaku alami (innate behavior), yang kemudian disebut juga sebagai clasical ataupun respondent behavior, yaitu perilaku yang diharapkan timbul oleh stimulus yang jelas ataupun spesifik, perilaku yangbersifat refleksif.
·         Perilaku operan (operant behavior), yaitu perilakuyang ditimbulkan oleh stimulus yang tidak diketahui, namun semata-mata ditimbulkan oleh organisme itu sendiri setelah mendapatkan penguatan.
Skinner yakin jika kebanyakan perilaku manusia dipelajari lewat Operant Conditioning atau pengkondisian operan, yang kuncinya adalah penguatan segera terhadap respons. Operant Conditioning adalah suatu proses penguatan perilaku yang dapat mengakibatkan perilaku tersebut dapat berulang kembali atau menghilang sesuai dengan keinginan.

2.3 Asumsi-asumsi teori Operarant Conditioning
Sebagai penganut aliran perilaku, skiner setuju dengan pendapat Watson yang mengatakan bahwa belajar merupakan proses perubahan perilaku. Ada 6 asumsi dasar dari teori Operant Conditioning, yaitu:
a.       Hasil belajar Merupakan perilaku yang dapat diamati.
b.      Perubahan perilaku sebagai hasil belajar secara fungsional berhubungan dengan perubahan situasi dalam lingkungan atau suatu kondisi.
c.       Hubungan antara perilaku dan lingkungan dapat ditentukan hanya jika elemen-elemen perilaku dan kondisi percobaan diukur secara fisik dan diamati perubahannya dalam situasi yang terkontrol tetap.
d.      Data yang dihasilkan oleh percobaan-percobaan terhadap perilaku merupakan satu-satunya data yang dapat digunakan untuk mengkaji alasan munculnya suatu perilaku.
e.       Sumber data yang paling dekat adalah perilaku dari masing-masing individu.
f.       Dinamika interaksi antara individu dengan lingkungannya bersifat relatif sama untuk semua jenis makhluk hidup.
Pada awalnya, asumsi-asumsi tersebut digunakan sebagai landasan dari penelitian-penelitian yang dilakukan Skiner dalam bentuk serangkaian percobaan menggunakan tikus dan merpati. Namun pada akhirnya, ke enam asumsi dasar tersebut menjadi kesimpulkan yang idambil oleh Skiner atas hasil percobaan yang dilakukannya. Bahkan, Skiner menyatakan bahwa penelitian yang dilakukannya dalam situasi laboratorium, ternyata dapat diaplikasikan kepada situasi perilaku manusia secara umum.  


2.4 Komponen Proses Belajar Menurut Skiner
Komponen Proses Belajar Menurut Skiner terdiri dari Stimulus yang didiskriminatif (Discriminative Stimulus) dan penguatan (positif dan negatif, serta hukuman) untuk menghasilkan respon (perubahan tingkah laku). Stimulus yang diskriminatif menurut skiner merupakan stimulus yang selalu hadir untuk pemunculan suatu respon.kunci berwarna Merah merupakan Stimulus yang diskriminatif dalam percobaan skiner terhadap burung merpati. Jika mematuk kunci merah, maka merpati akan memperoleh makanan. Setelah beberapa kali pengulangan, jika kunci diganti warna maka merpati tidak akan mematuk. Makanan dalam hal ini berfungsi sebagai faktor penguatan. Kemungkinan pemunculan respon dapat dimaksimalkan dengan kehadiran stimulus diskriminatif. Jika ada stimulus lain yang memiliki persamaan dengan stimulus diskriminatif, maka respon dapat dimunculkan kembali. Misalnya, merpati akan mematuk tongkat bercahaya merah, dan lain sebagainya. Hal ini yang seing disebut sebagai perampatan stimulus (stimulus Generalization).
2.5 Pokok -pokok teori Skinner
2.5.1 Penggugah (reinforcement)
Sistem yang ditawarkan B.F. Skinner didasarkan pada cara kerja yang menentukan (operan conditioning). Setiap makhluk hidup pasti selalu dla proses melakukan sesuatu. Terhadap lingkungannya,selama melakukan proses operasi ini ,makhluk hiduptersebut pasti meneroma stimmulus -stimulus tertentu yangdisebut dengan stimulus penggugah. Stimulus tersebut berdampak pada meningkatnya proses cara kerja tadi yaitu adanya penggugah (reinforcement) inilah yang disebut dengan “cara kerja yang menentukan ” dalam perilaku pasti menghasilkan konsekuensi -konsekuensi tertentu dan kosekuensi -onsekuensi ini akan mengubah kecenderungan mahluk hidup untuk mengulangi perilaku yang sama. Ketentuan penggugah dalam teori Skinner adalah seagai berikut
“perilaku yang diikuti oleh stimulus penggugah akan memperbesar kemungkinan       dilaukannya kembali perilaku tersebut di masa-masa berikutnya. Perilaku yang tidak diikuti oleh stimulus – stimulus penggugah memperkecil kemungkinan dilakukannya kembali perilaku tersebut di masa – masa berikutnya.”
2.5.2 Teori Kepribadian Behavioristik
Menurut  Skinner pendidikan mengenai kepribadian hanya sah jika mematuhi kriteria ilmiah. penyelidikan mengenai kepribadian melibatkan pengamatan yang sistematis dan sejarah belajar yang khas serta latar bealakng yang unik dari individu .Menurut Skinner individu adalah organisme yang memperoleh perbendaharaan tingkah lakunya melalui belajar, individu bukanlah agen penyebab tingkah laku melainkan suatu point antara faktor – faktor lingkungandan bawaan yang khas serta secara bersama- sama menghasilkan akibat tingkah laku yang khas pula pada individu tersebut. Skinner telah menguraikan sejumlah teknik yang digunakan untuk mengontrol perilaku yang dipelajari oleh social learning theorist yang tertarik pada modeling modifikasi perilaku .teknik itu adalah sebagai berikut :
1.      Pengekangan fisik ( physical restrains) yaitu kita mengontrol perilaku dengan melakukan pengekangan secara fisik. Contoh, beberapa dari kita menutup mulut untuk menghidari diri dari menertawakan kesalahan orang.
2.      Bantuan fisik ( physical aids) kita mengontrol perilaku dengan melakukan bantuan fisik. contoh: seorang pengemudi truk minum obat perangsang anti kantuk agar tidak mengantuk saat mengemudi di perjalanan jauh.
3.      Mengubah stimulus (changing the stimulus conditions) yaitu ketika ada stimulus yang diinginkan oleh individu, maka stimulus itu diubah dengan stimulus yang lain.contoh, orang yang berkelebihan berat badan menyisihkan sekotak permen dari hadapannya.
4.      Memanipulasi kondisi emosional (manipulasing emosional conditions), kita mengubah emosional yang ada dalam diri kita untuk mengontrol diri ,kita membuat dia sendiri memiliki suasana hati yang baik sebelum menghadiri pertemuan yang membuat stress agar  dapat menunjukkan perilaku yang tepat.
5.      Melakukan respons lain (performing alternative responses), menahan diri dari perilaku yang membawa hukuman dengan melakukan yang lain. contoh,untuk menahan diri agar kita tidak menyerang orang yang tidak kita sukai, kita melakukan tindakan yang tidak berhubungan dengan pendapat kita tentang mereka.
6.      Menguatkan diri secara positif ( positive self reinforcement). Contohnya kita memberi hadiah pada diri sendiri karena mendapat nilai baik dalam ujian.
7.      Menghukum diri sendiri ( Self Punishment ), seorang menghukum diri sendiri karena gagal mencapai tujuan yang hendak diinginkan. contohnya,seorang mahasiswa menghukum diri sendiri karena gagal dengan giat belajar.
2.6 Penguat, Pembentukan, Stimulus Adersif, dan Modifikasi dalam teori Behaviorism.
2.6.1 Daftar Penguatan (Reinforcement schedule)
Dalam eksperimen yang dilakukan oleh skinner, penguat tidak selalu diberikan setiap kali binatang percobaan melakukan tindakan yang dikehendaki ,walaupun demikian perilaku operan masih menjadi seperti biasa . frekuensi pemberian penguatan atau pegaturan waktu disebu dengan “reinforcement schedules”. Penguatan yang diberikan pada waktu – waktu tertentu disebut degan partial reinforcemen.
Sebagai contoh nya orang tua tidak selama- lamanya bersama dengan orang tuanya oleh karena itu penguatan positif tidak selalu dapatdiberikan setiap kali anak melakukan tindakan yang dikehendari, prestasi yang dilakukan oleh anak walupun hanya satu kali akan membuat anak yang bersangkutan giat untuk berlatih.
Jadwal penguatan bervariasi menurut     pemberian conditional stimulus , ada dua kategori penjadwalan yang dilakukan oleh Skinner yaitu:
1.      Pemberian penguatan didasarkan pada jumlah respond an pemberia penguat berdasarkan waktu
2.      Pemberian penguatan secara teratur dan tidak teratur
Selain itu Skinner juga membuat empat jadwal penguatan yaitu,
1.      Fixed ratio yaitu jumlah respon tertentu menentukan kapan penguatan diberikan
2.      Fixed interaval yaitu selang waktu tertentu ( misalnya 5 menit ) menentukan pemberian penguatan berikutnya
3.      Variabel ratio yaitu jumlah perilaku responden yang terjadi tidak ditientukan secara kaku.
4.      Variable interval yaitu waktu pemberian penguat divariasi diantara selang waktu tertentu
Jadwal penguatan
Tipe jadwal
Jika penguat diberikan
Akibat terhadap rate of responding
Fixed ratio
Setealh sejumlah tertentu penekanan tombol
Perilaku terjadi sangat sering lalu pause sebentar setelah penguat diberikan
variabel ratio
Setelah sejumlah tak tertentu penekanan tombol
Perilaku yang terkaji dengan frekuensi yang cukup tinggi dan konstan
Fixed interval
Setelah jangka waktu tertentu
Frekuensi perilaku meningkat pada akhir waktu dan rendah setelah penguat diberikan
Variable interval
Setelah selama jangka waktu yang tidak ditentukan
Perilaku terjadi dengan frekuensi rendah tapi konstan
2.6.2 Pembentukan ( Shaping )
Salah satu pertanyaan yang dijawab Skinner adalah bagaimana kita memiliki perilaku yang kompleks. Skinner berusaha menjawab pertanyaan ini dengan ide pembentukan atau metode perkiraan yang silih berganti. Pada awalnya ide ini hanya berbentuk perilaku pendorong yang mirip dengan apa yang kita inginkan sampi perilaku kita tidak sama lagi dengan orang yang biasa dilakukan orang dalam kehidupan sehari – hari. Sehingga metode seperti ini dipakai dalam terapi yang disebut  dengan desensitisasi sistematis, contohnya ada pada orang yang mengalami fobia terhadap laba – laba, orang tersebut akan dihadapkan untuk mengamati laba – laba dalam 10 skenario dengan tingkat kepaikan ang berbeda – beda.dalam scenario yang pertama tingkat kepanikannya sangat rendah misalnya seorang yang terkena fobia melihat laba- laba kecil dari jarak jauh ,scenario yang kedua naik menjadi agak sedikit menakutkan dan seterusnya sampai pada tingkat ke – 10 dengan kepanikan yang sangat menakutkan yaitu ada laba – laba yang menakutkan menghinggapi wjah orang tersebut ketika mngemudi. Yang dilakukan seorang terapis dalam menerapi adalah memberikan pengajaran bagaimana mengendorkan otot –otot pelaku fobia ketika menghadapi situai diatas.


2.6.3 Stimultan Adversif
Stimultan adversif adalah lawan dari stimultan penguat ( reinforcement) tidak menyenangkan bahkan menyakitkan. Pada eksperiment Siknner jika kita memaksa tikus percobaan untuk melakukan “ X” ia akan melakukannya secara tidak sempurna ,sehingga definisi ini menggambarkan pengkondisian yang dikenal dengan “hukuman” sebaliknya jika pada eksperimen diata kita tukar simulan aversif setelah tikus memperlihatkan perilaku tertentu maka ini disebut dengan pengaan negative. Ketentuan dalam teori ini adalah:
1.      Perilaku ynag diikuti oleh stimulant aversif akan memperkecil diulanginya perilaku tersebut pada masa selanjutnya
2.      perilaku yang diikuti oleh penghilangan stimultan aversif akan memperbesar kemungkinan diulanginya perilaku yang sama dimasa selanjutnya
2.6.3 Modifikasi Perilaku
Modifikasi perilaku atau yang disebut dengan B- Mod adalah teknik terapi yang didasarkanpada karya – karya Skinner. Cara kerjanya sangat sederhana yaitu menghilangkan perilaku yang tidak diingini ( dengan cara menghilangkan penguat ) dan menggantinya dengan perilaku yang dihasrati dengan penguat. Teknik ini banyak digunakan di lembaga – lembaga seperti rumah sakit rumah sakit jiwa, panti untuk remaja bermasalah dan penjara, dan ditandai dengan adanya aturan – aturan tertentu yang berlaku disebuah intitusi secara eksplisit dan mereka ang menaati akan dihadiahi, tetapi ini tidak nberlaku secara terus – menerus , ada tenggang waktu untuk memberikan hadiah itu.





BAB III
PENUTUP
3.1  Kesimpulan
1.      Latar Belakang Teori Skinner adalah B.F. Skinner mengemukakan pendapatnya bahwa lingkungan (orang tua, guru, dan teman sebaya) memberikan reaksi terhadap perilaku kita baik dengan cara menguatkan atau menghapus perilaku tersebut. Lingkungan mempunyai pengaruh yang jauh lebih besar dalam belajar dan prilaku kita.  Lingkungan memegang peranan kunci untuk memahami perilaku.
2.      Konsep Teori Skinner adalah Tingkah laku itu mengikuti hukum tertentu (behavior ofl awful), Tingkah laku dapat diramalkan (behavior can be predicted), Tingkah laku dapat dikontrol (Behavior can be controlled). Serta Skinner membedakan perilaku atas : Perilaku alami (innate behavior), dan Perilaku operan (operant behavior).
3.      Asumsi-asumsi teori Operarant Conditioning ada 6, yaitu:
a.       Hasil belajar Merupakan perilaku yang dapat diamati.
b.      Perubahan perilaku sebagai hasil belajar secara fungsional berhubungan dengan perubahan situasi dalam lingkungan atau suatu kondisi.
c.       Hubungan antara perilaku dan lingkungan dapat ditentukan hanya jika elemen-elemen perilaku dan kondisi percobaan diukur secara fisik dan diamati perubahannya dalam situasi yang terkontrol tetap.
d.      Data yang dihasilkan oleh percobaan-percobaan terhadap perilaku merupakan satu-satunya data yang dapat digunakan untuk mengkaji alasan munculnya suatu perilaku.
e.       Sumber data yang paling dekat adalah perilaku dari masing-masing individu.
f.       Dinamika interaksi antara individu dengan lingkungannya bersifat relatif sama untuk semua jenis makhluk hidup.
4.      Komponen Proses Belajar Menurut Skiner terdiri dari Stimulus yang didiskriminatif (Discriminative Stimulus) dan penguatan (positif dan negatif, serta hukuman) untuk menghasilkan respon (perubahan tingkah laku).


5.      Pokok -pokok teori Skinner adalah Penggugah (reinforcement), Teori Kepribadian Behavioristik (Pengekangan fisik ( physical restrains), Bantuan fisik ( physical aids), Mengubah stimulus (changing the stimulus conditions), Memanipulasi kondisi emosional (manipulasing emosional conditions), Melakukan respons lain (performing alternative responses), Menguatkan diri secara positif ( positive self reinforcement), dan Menghukum diri sendiri ( Self Punishment ).
6.      Penguat, Pembentukan, Stimulus Adersif, dan Modifikasi dalam teori Behaviorism.

3.2  Saran
Berdasarkan makalah yang telah penulis susun, diharapkan para mahasiswa dapat memahami tentang konsep belajar Behaviorism menurut B.F. Skinner lebih dalam dan dapat menerapkannya dengan lebih baik.




















DAFTAR PUSTAKA
                        Abdul Qodir .2000. Sejarah Psikologi..  Yogyakarta: prismashopie
            Paulus Budiharjo.1997. Mengenal kepribadian Mutakhir. Jakarta: Kanisius
            Hardy, Mlacolm dan Heyes, Steves.1988. Pengantar Psikologi Edisi kedua Cetakan
                        pertama. P.T. Gelora Aksara Pratama. Jakarta.
            Udin S. Winataputra, dkk. 2007. Teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta:
                                    Universitas Terbuka.
            http://itachi.student.fkip.uns.ac.id diakses tanggal 3 April 2013.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar